Paguyupan Padang Rembulan Telah Menggelar Kegiatan Dirgahayu RI Yang Ke 73 Thn Di Candi Jolotundo

Paguyupan Padang Rembulan Telah Menggelar Kegiatan Dirgahayu RI Yang Ke 73 Thn Di Candi Jolotundo

JURNAL99.COM,MOJOKERTO - Sidoarjo memiliki banyak paguyuban kebatinan,paguyuban
penghayatan kejawen,di Sidoarjo masih menjalankan nilai-nilai kejawen, seperti mengucapkan
mantra, semedi, larungan, dan sesaji. Salah satu di antaranya adalah Paguyuban Padang
rembulan tempatnya di desa Cemeng Kalang Sidoarjo,ungkapnya.


Berdasarkan hasil penelitian, beberapa alasan para pengikut kepercayaan kejawen masih
mempertahankan keyakinannya karena ingin mengaktualisasikan budi luhur dan budi pekerti
untuk menjadi manusia sejati guna mencapai ketenteraman hidup. Langkah yang ditempuh
adalah dengan cara membangun ruang dan suasana hidup kebatinan jawa, meyakini dan
mempertahankan pandangan hidup kejawen sebagai pedoman aktualisasi budi luhur.
"Budi luhur dipahami sebagai budaya ideal dan budi pekerti sebagai pedoman pekerti yang
dipertahankan dan dikreasi menjadi doktrin," kata Ketua Paguyupan Padang rembulan
Panggilanya mbah Sareh. Jum,at malam (16/08/2018)


Mbah santoso asal dari Solo Jawa tengah yang kini menjadi ketua panitia Penyelenggara
kegiatan pada malam itu di cela cela kegiatan telah di wawancarai oleh media harian pojok kiri
mbah Santoso menjelaskan bawa kegiatan ini untuk mengenang pejuang para pahlawan yang
gugur di medan perang untuk membelah tanah air kita,ucapnya.


Dalam paguyuban kejawen Padang rembulan dianggap lebih moral untuk melawan kegelisahan
batin, agamaisasi, dan menjanjikan keselamatan kosmologis hingga kelak dapat meraih
manunggaling kawula-Gusti. Dalam hidup bermasyarakat, hal itu diaktualisasikan dengan sikap
toleransi, tepa selira, ikhlas, dan mengedepankan watak moral sepi ing pamrih.


Mbah Sokeh menyampaikan gerakan penghayat kepercayaan memang bukan aliran sesat
melainkan sebuah tradisi budaya yang luhur, yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan
bermasyarakat. "Ini adalah gerakan budaya spiritual, mau dinamakan agama atau bukan, itu
terserah yang memberikan atribut. Yang jelas, mereka bukan ateis, tidak menyembah kayu watu,
melainkan menyembah Tuhan," katanya.(ahmadi/im)

Sebelumnya Kecamatan Prambon Adakan Lomba Gerak Jalan Antar Desa Dalam Memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke-73
Selanjutnya Dengan Skema KPBU, Toyo University Jepang Dukung Pembangunan Gedung Terpadu dan Rumah Sakit Wilayah